Sahabatku semua yang dirahmati,
subhanallah, walhamdulillah, allahu akbar. Tiga kalimat singkat yang
mampu memenuhi timbangan amal, siang yang begitu indah dengan kejadian
luar biasa yang Allah titipkan lewat mimpinya, subhanallah
Sahabatku semua yang dicintai Allah, siapa diantara kalian yang tak dapat membaca surat al ikhlas, surat pendek yang menjadi favorit banyak orang.
Sahabatku semua yang dicintai Allah, siapa diantara kalian yang tak dapat membaca surat al ikhlas, surat pendek yang menjadi favorit banyak orang.
Surat Al Ikhlas, seperti halnya
surat-surat yang lain juga memiliki banyak rahasia yang terkandung di
dalamnya, bila mau mengamalkannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang
ada.
Dinamakan surat Al Ikhlas, karena
dia menyelamatkan orang yang membacanya dari kesulitan dunia akherat,
dari kesulitan sakarotul maut, dari kesulitan kegelapan malam dan dari
segala kesulitan resiko di hari kiamat.
Sebuah surat yang sanggup mewakili sepertiga dari alquran, siapa yang tak gemar untuk membacanya..
Sebuah kisah menarik, semoga dapat diambil manfaatnya..
Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.
Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.
Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.
Pada suatu pagi Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.
Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril.
Lalu Rasulullah SAW bertanya
kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit
dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”
“Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya.” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?”
“Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?”
Kemudian Malaikat Jibril menjawab
: “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus
70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.”
“Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rasulullah SAW.
“Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya lagi :
“Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal
mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?”
Malaikat Jibril menjawab :
“Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya
banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk,
waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu
membaca Surat Al-Ikhlas.”
Malaikat
Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah SWT mengutus
sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang
bernama Muawiyah tersebut.”
SubhanAllah..
Walhamdulillah..
Wala ilaha illallah..
Wallahu akbar.
Walhamdulillah..
Wala ilaha illallah..
Wallahu akbar.
Rasulullah SAW bersabda : ”Apakah
seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an
dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca
sepertigai Al-Qur’an?” Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu
sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (H.R. Muslim no. 1922)
Sahabatku yang aku sayangi karena Allah
Surat Al Ikhlas termasuk diantara
surat-surat pendek dalam Al Qur’an. Surat ini sering kali dibaca dan
diulang-ulang, hampir-hampir sudah menjadi bacaan harian bagi setiap
muslim baik ketika sholat ataupun dzikir. Bukan karena surat ini pendek
dan mudah di hafal. Namun memang demikianlah Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam dalam keseharian beliau tidak lepas dari membaca surat
yang mulia ini. Lebih dari itu surat yang mulia ini mengandung
makna-makna yang penting dan mendalam.
Didalam surat ini tidak
menyebutkan kalimat sesuai namanya (Al-Iklas) seperti surat-surat lain
dalam Al-Quran. Oleh karena itu meski surat ini pendek tapi memiliki
kedudukan yang tinggi dibanding surat-surat lainnya. Bahkan kedudukannya
sama dengan sepertiga Al Qur’an. Walaupun namanya tidak disebut
didalamnya namun mempunyai bobot kemuliaan yang luar biasa. Yang
dimaksut adalah bobot nilai “Keiklasan” yang dimiliki surat ini. Surat
ini menyiratkan senantiasa dalam segala hal keseharian kita harus selalu
“ikhlas lillahita’ala”.
sahabatku semua yang dimuliakan
dan disayang Allah Ta’ala , pada edisi kali ini kita bahas tentang
kandungan-kandungan penting dan mendalam dalam surat Al Ikhlas, agar
menambah kekhusu’an kita dalam membaca surat ini dan bisa mengamalkan
kandungan-kandungan penting tersebut dalam kehidupan kita.
Kedudukan Surat Al Ikhlas
dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa
seorang laki-laki mendengar seseorang yang membaca surat: “QUL HUWALLAHU
AHAD.” dan orang itu selalu mengulang-ngulangnya. Di pagi harinya, maka
laki-laki itu pun segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan mengadukan mengenai seseorang yang ia dengar semalam
membaca surat yang sepertinya ia menganggap sangat sedikit. Maka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat itu benar-benar menyamai sepertiga Al Qur`an.” (HR.Bukhari|Shahih|Kitab:Keutamaan Al-Quran|No:4627)
Para ulama’ telah menjelaskan
sebab kenapa surat Al Ikhlash ini menyamai sepertiga Al Qur’an. Karena
di dalam Al Qur’an mengandung tiga pokok yang paling mendasar yaitu;
Pertama: Tauhid,
Kedua : Kisah-kisah rasul dan umatnya,
Ketiga : Hukum-hukum syari’at.
Sedangkan surat Al Ikhlas ini,
mengandung pokok-pokok dan kaidah-kaidah ilmu tauhid. Atas dasar inilah
surat Al Ikhlash menyamai sepertiga Al-Qur’an.
Kandungan Surat Al-Ikhlas
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Katakanlah:
“Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula
diperanakkan, Dan tiada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Dalam ayat pertama:
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (tunggal).”
Para pembaca yang mulia, dalam
ayat pertama Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa dirinya memiliki
nama Al Ahad yang mengandung sifat ahadiyyah yang bermakna esa atau
tunggal. Dia-lah esa dalam segala nama-nama-Nya yang mulia dan esa pula
dalam seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna. Dia-lah esa, tiada siapa
pun yang semisal dan serupa dengan keagungan dan kemulian Allah
subhanahu wata’ala.
Kalau kita memperhatikan
penciptaan alam semesta ini dari bumi, langit, matahari, bulan, lautan,
gunung-gunung, bukit-bukit, iklim/suhu dan seluruh makhluk yang di alam
ini, semuanya tertata rapi dan serasi menunjukkan bahwa pencipta,
pengatur, dan penguasa alam semesta ini adalah esa yaitu Allah subhanahu
wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Dia-lah
Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali
tidak akan melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat ada
sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya
penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak akan menemukan sesuatu
yang cacat” (QS:Al Mulk: 2-3)
Dan juga firman-Nya (artinya):
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan
apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan
kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS:Al Baqarah: 164)
Fitrah manusia yang suci pasti dalam hatinya akan menyakini keesaan Allah subhanahu wata’ala.
Sebagaimana perkataan penyair:
Dan pada segala sesuatu terdapat tanda-tanda bagi-Nya
Yang semua itu menunjukkan bahwa Allah adalah Esa.
Kalau sekiranya yang menguasai
dan mengatur bumi dan langit serta seluruh alam ini lebih dari satu
niscaya bumi dan langit serta alam ini akan hancur berantakan. Allah
subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sekiranya ada di langit dan di bumi pengatur dan pencipta selain Allah tentulah keduanya telah rusak dan binasa.” (QS:Al-Anbiya: 22)
Demikian pula Allah subhanahu
wata’ala adalah esa dalam peribadahan. Bahwa tidak ada sesembahan yang
berhak disembah kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala dan
sesembahan-sesembahan selain Allah subhanahu wata’ala itu adalah batil.
Sehingga termasuk kandungan dari
ayat pertama, yaitu bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah esa (tunggal)
dalam penciptaan, pengaturan dan pengusaan alam semesta ini, maka
seharusnya Dia-lah Allah subhanahu wata’ala pula adalah esa (tunggal)
dalam peribadahan. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman
(artinya):
“Hai
manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan
orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa, (karena) Dia-lah
yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai
atap, dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk
kalian; Karena itu janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah,
padahal kalian mengetahuinya.” (QS:Al Baqarah: 21-22)
Bahkan sesungguhnya kitab suci
Al-Qur’an dan semua risalah yang dibawa oleh para Nabi tidaklah datang
melainkan dalam rangka menjelaskan tentang keesaan Allah subhanahu
wata’ala yaitu bahwa tidak ada yang berhak didibadahi kecuali Allah
subhanahu wata’ala semata. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah kamu sekalian kepada-Ku”. (QS:Al-Anbiya’: 25)
Dalam ayat yang kedua Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Allah adalah (Rabb) yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”
Dalam ayat ini Allah subhanahu
wata’ala mengkhabarkan kepada kita salah satu nama-Nya pula adalah Ash
Shomad. Yang mengandung makna bahwa Dia-lah Rabb satu-satunya tempat
bergantung dari seluruh makhluk. Dia-lah yang memenuhi seluruh kebutuhan
makhluk-Nya. Karena Dia-lah Yang Maha Kaya dengan kekayaan yang tiada
batas dan Dia pula Yang Maha Kuasa dengan kekuasaan yang tiada tara.
Tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat kecuali
hanya Allah subhanahu wata’ala semata. Allah subhanahu wata’ala
berfirman (artinya):
“Jika
Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan
bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya …” (QS:Yunus: 107)
Rasulllah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.” (HR.Bukhari)
Allah subhanahu wata’ala dan
Rasul-Nya menegaskan bahwa makhluk itu lemah dan tidak punya daya dan
kekuatan. Oleh karena itulah Allah subhanahu wata’ala sebagai tempat
satu-satunya untuk bergantung dari seluruh makhluknya.
Lalu pantaskah seorang hamba
bergantung kepada selain Allah subhanahu wata’ala? Atau berdo’a, meminta
pertolongan, meminta barokah, mempersembahkan sesembelihan kepada
selain Allah subhanahu wata’ala. Pantaskan seorang hamba menyembelih
sesembelihan diperuntukan sang penunggu pohon, gunung, laut, kuburan
atau selainnya.
Tentu hal itu sangat tidak
pantas, karena Allah subhanahu wata’ala adalah Al Ahad yang maha esa
dalam penciptaan dan pengaturan, Dia-lah pula yang maha esa dalam
peribadahan. Dan Dia subhanahu wata’ala juga adalah Ash Shomad, tempat
satu-satuya bergantung dari seluruh makhluk-Nya, sehingga Dia-lah pula
yang berhak untuk diibadahi semata.
Dalam ayat ketiga Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.”
Ayat ini menunjukkan akan
kesempurnaan Allah subhanahu wata’ala, Dia tidak memiliki anak dan tidak
pula diperanakkan serta Dia pun tidak meliki istri. Sehingga Dia-lah
esa dalam segala sifat-sifat-Nya yang tiada setara dengan-Nya. Allah
subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya:
“Dia
pencipta langit dan bumi, Maka bagaimana mungkin Dia mempunyai anak
padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan
Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS:Al-An’am: 101)
Sehingga tidak benar perkataan
Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah subhanahu wata’ala, tidak bernar
pula perkataan Nasrani bahwa Isa adalah Allah subhanahu wata’ala ataupun
keyakinan trinitas, tidak benar pula perkataan orang-orang musyrikin
Quraisy bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Subhanallah (Maha
Suci Allah) dari apa yang mereka katakan.
Dalam ayat terakhir, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan tiada seorangpun yang setara dengan-Nya.”
Allah subhanahu wata’ala menutup
surat Al Ikhlash ini dengan penegasan bahwa tidak ada yang siapa pun
yang setara dan serupa dengan sifat-sifat Allah yang maha mulia dan
sempurna. Sebagaimana juga ditegaskan dalam ayat-ayat lainnya,
diantaranya;
Dan Katakanlah: “Segala
puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu
dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan
agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS:Al Isra’: 111).